Ovulasi dan Proses Terjadinya Siklus Menstruasi

Posted by on 21 June 2016 - 6:55 PM

Edutafsi.com - Berbeda dengan laki-laki, wanita hanya mengeluarkan 1 sel telur selama kurun waktu tertentu. Kurun waktu tersebut merupakan siklus reproduksi wanita. Siklus itu dikontrol oleh hormon dan berhubungan dengan peristiwa ovulasi atau pelepasan sel telur. Pada manusia dan primata, siklus reproduksi juga dikenal dengan istilah siklus menstruasi. Pada hewan mamalia lainnya, siklus reproduksinya disebut siklus estrus. Perbedaan utama antara siklus estrus dan siklus menstruasi terletak pada ada atau tidaknya pendarahan. Pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka endometrium akan dikeluarkan bersama darah. Sedangkan pada siklus estrus endometrium diserap kembali oleh uterus sehingga tidak terjadi pendarahan. Pada kesempatan ini kita akan membahas proses ovulasi dan proses terjadinya menstruasi pada wanita.

Pengertian Ovulasi

Ovulasi adalah proses pelepasan sel telur yang telah matang dari ovarium. Proses ini berkaitan dengan siklus yang dikontrol oleh hormon. Hormon yang mempengaruhi proses ovulasi antaralain FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone).

Ovulasi umumnya terjadi pada sekitar 13-15 hari sebelum hari pertama haid. Pada saat inilah seorang wanita dikatakan mengalami masa subur. Setelah itu, siklus menstruasi akan dimulai. Satu siklus menstruasi akan dimulai pada hari pertama setelah hari terakhir masa haid sebelumnya dan akan berkahir pada hari pertama masa haid berikutnya.

Pada saat ovulasi, sel telur yang telah masak akan dikeluarkan dari ovarium sehingga folikel menjadi kosong. Sel telur kemudian masuk ke dalam oviduk atau tuba fallopi melalui infundibulum yang berbentuk seperti jari-jari selanjutnya bergerak menuju uterus.

Dengan adanya pengaruh hormon LH, sel folikel yang telah kosong akan membentuk korpus luteum atau badan kuning yang akan memicu terbentuknya hormon progesteron dan estrogen.

Selama proses ovulasi, kandungan estrogen tinggi sehingga lendir pada serviks atau leher rahim menjadi tipis. Kondisi ini mempermuda sp3rma untuk bergerak dari v4gina menuju uterus.

Setelah ovulasi, kandungan hormon progesteron akan meningkat dan lendir pada serviks akan kembali menebal dan menjadi lengket sehingga mempersulit jalan masuk sp3rma menuju uterus.

Baca juga : Pengaruh Hormon pada Sistem Reproduksi.

Proses Terjadinya Menstruasi

Siklus menstruasi wanita umumnya memiliki periode 28 hari hingga 1 bulan sehingga sering disebut dengan istilah "mens" yang artinya bulan. Silus menstruasi dimulai pada masa pubertas dan akan berakhir pada masa menopause.

Setiap bulan, wanita normal yang telah memasuki massa akil balig atau dewasa secara biologis akan mengalami menstruasi. Siklus menstruasi wanita dipengaruhi oleh hormon-hormon reproduksi yang dihasilkan oleh kelenjar hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.

Menstruasi terjadi karena sel telur yang dilepaskan oleh folikel tidak dibuahi oleh sp3rma. Dengan kata lain, tidak terjadi pembuahan. Folikel yang kosong membentuk korpus luteum dan memicu sekresi hormon progesteron.

Hormon progesteron akan menyebabkan dinding rahim mengalami penebalan. Selanjutnya, progesteron akan berkurang dan endometrium atau dinding rahim mengalami degenarasi dan luruh bersama darah.

Peristiwa meluruhnya endometrium yang dikeluarkan bersama darah inilah yang disebut menstruasi. Dengan kata lain, menstruasi adalah proses luruhnya sel telur yang tidak dibuahi yang sudah menjadi mati bersama dengan selaput lendir dinding rahim yang kaya pembuluh darah.

Massa menstruasi umumnya berlangsung selama 4 sampai 7 hari. Setelah masa menstruasi selesai, maka siklus reproduksi yang baru akan dimulai yaitu diawali dengan pulihnya endometrium dan dihasilkannya FSH yang mempengaruhi proses pembentukan sel telur.

Siklus menstruasi

Siklus menstruasi pada wanita terdiri dari tiga fase, yaitu:
1. Fase Poliferasi
2. Fase Sekresi
3. Fase Menstruasi

Fase Poliferasi
Fase poliferasi merupakan fase dimana estrogen memegang kendali. Karena dikendalikan oleh hormon estrogen, maka fase poliferasi juga disebut fase estrogen. Fase ini dimulai pada hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus.

Fase ini diawali dengan menurunnya kadar progesteron yang memicu FSH untuk mempengaruhi folikel di ovarium untuk menghasilkan hormon estrogen. Selanjutnya, peningkatan estrogen menghambat fungsi hormon FSH dan memacu LH.

Estrogen berfungsi membangun endometrium sehingga endometrium rahim mengalami penebalan sekitar 5-7 cm. Selain itu, estrogen juga mempengaruhi kelenjar serviks untuk menghasilkan cairan encer.

Pada tahap akhir dari fase ini yaitu sekitar hari ke-14 dari siklus, folikel graaf akan pecah sehingga ovum akan terlepas dan terlempar ke luar. Peristiwa ini disebut ovulasi. 

Fase Sekresi
Fase sekresi berlangsung setelah poliferasi hingga hari ke-28 dari siklus menstruasi. Pada fase ini hormon progesteron memegang kendali sehingga disebut juga fase progesteron.

Pada fase sekresi, endometrium akan terus menebal dan arterinya membesar serta menghasilkan cairan yang kaya glikogen. Selain itu kelenjar endometrium juga akan tumbuh.

Fase ini diawali dengan terbentuknya korpus rubrum dari folikel graff yang pecah pada saat ovulasi. Korpus rubrum mengandung banyak darah. Karena pengaruh LH, korpus rubrum berubah menjadi korpus luteum yang mensekresikan hormon progesteron.

Selanjutnya, hormon progesteron dan estrogen mempengaruhi perubahan endometrium. Jika tidak terjadi pembuahan, korpus luteum akan mengalami degenarasi sehingga progesteron dan estrogen menurun.

Baca juga : Kumpulan Soal dan Jawaban Siklus Menstruasi.

Fase Menstruasi
Menstruasi merupakan fase terjadinya peluruhan endometrium dan pendarahan. Fase menstruasi umumnya berlangsung selama 4 - 7 hari. Peristiwa ini terjadi seiring dengan menurunnya kadar estrogen dan progesteron.

Jika tidak terjadi pembuahan (sel telur tidak dibuahi), maka korpus luteum akan menghentikan produksi hormon estrogen dan progesteron. Akibatnya, endometrium mengalami degenerasi. Endometrium kemudian akan dikeluarkan bersama darah haid.

Seiring dengan menurun dan hilangnya kadar progesteron dan estrogen, maka hormon FSH akan kembali diproduksi dan berfungsi aktif. Dengan demikian, siklus menstruasi yang baru dimulai kembali.

Skema siklus menstruasi

Ketika seorang wanita memasuki masa menopause (usia 45-50 tahun ke atas), maka ia tidak akan mengalami menstruasi. Hal ini terjadi karena indung telur wanita pada masa menopause tidak berfungsi sehingga progesteron juga berhenti.


Edutafsi.com adalah blog bahan belajar sekolah yang ditujukan untuk membantu murid belajar. Dukung edutafsi untuk terus berkembang dengan like laman facebook edutafsi dan follow IG Tafsi Junior. Terimakasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga bermanfaat.

Advertisements