Ciri-ciri dan Syarat-syarat Kalimat Komunikatif

Posted by on 31 July 2016 - 11:57 AM

Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan atau informasi dari pembicara kepada pendengar. Berkomunikasi merupakan kegiatan yang umum dilakukan di berbagai lingkungan hidup. Di sekolah, setiap hari kita berkomunikasi dengan guru atau teman sekelas. Setiap hari kita melakukan percakapan dengan orang lain untuk memperoleh atau menyampaikan informasi. Komunikasi dapat dilakukan untuk berbagai tujuan seperti kepentingan akademis atau untuk sekedar mengobrol dengan teman. Komunikasi dapat berlangsung satu arah atau dua arah. Komunikasi dua arah dapat menimbulkan interaksi antara pembicara dan pendengar. Salah satu hal terpenting dalam berkomunikasi adalah penggunaan kalimat yang tepat. Agar komunikasi dapat berjalan dengan lancar, maka kita harus cermat dalam memilih kata-kata yang tepat. Pemilihan kata atau kalimat yang tepat ditujukan agar pesan atau informasi yang ingin disampaikan dapat dinalar dan dipahami oleh pendengar. Jika kita menggunakan kalimat yang tidak sesuai, maka akan timbul kesalahpahaman karena pendengar tidak menangkap pesan dengan baik atau bahkan tidak mengerti sama sekali apa yang kita bicarakan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kita akan membahas syarat-syarat apa saja yang harus kita perhatikan agar komunikasi yang kita lakukan dapat berlangsung secara efektif.

Syarat-syarat Kalimat Komunikatif

Sebenarnya tidaklah sulit untuk melihat apakah komunikasi berlangsung secara efektif atau tidak. Efektivitas dari suatu komunikasi dapat dilihat dari salah satu indikator yang sangat penting yaitu ketersampaian pesan. Artinya, jika pesan yang ingin kita sampaikan dapat diterima oleh pendengar dan sesuai dengan yang kita inginkan, maka komunikasi tersebut termasuk efektif.

Sebaliknya, jika pesan yang ingin kita sampaikan tidak dapat dipahami oleh pendengar atau pendengar menangkap pesan yang berbeda dengan pesan kita dan terjadi kesalahpahaman, maka sudah tentu komunikasi yang kita lakukan tidak efektif. Komunikasi yang tidak efektif dapat terjadi karena berbagai faktor antaralain penggunaan kata yang salah, penyampaian yang kurang tepat, komunikasi yang tidak sempurna, dan sebagainya.

Komunikasi tidak sempurna merupakan bentuk komunikasi yang tidak lengkap. Dalam hal ini, pembicara menyampaikan suatu informasi atau pesan yang kurang detail sehingga pendengar belum memahami maksud dari pembicara. Komunikasi tidak sempurna seringkali terjadi karena pembicara beranggapan bahwa pendengar bisa memahami maksud dari pembicaraanny, padahal sebenarnya tidak.

Penggunaan kata atau kalimat yang berbelit-belit juga sering menjadi penyebab komunikasi tidak efektif. Alih-alih memperjelas informasi atau pesan, pendengar justru menjadi bingung dan tidak bisa memastikan pesan apa yang ingin disampaikan oleh pembicara. Kendala seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Baca juga : Memahami Makna Kata & Melatih Keterampilan Berbicara.

Penyebab lain yang dapat mengganggu kelancaran komunikasi adalah situasi lingkungan dan kondisi pendengar. Meskipun pembicara telah menggunakan kalimat yang tepat dalam berbicara, jika situasi lingkungan dan kondisi pendengar tidak mendukung maka belum tentu komunikasi tersebut berlangsung efektif. Adakalanya daya tangkap pendengar yang kurang baik menyebabkan kesalahpahaman.

KomunikatifTidak Komunikatif
Berbicara tentang korupsi tidak kunjung selesaiMembicarakan tentang masalah korupsi tak ada habis-habisnya
Saya mencuci mobil ayah dua kali semingguSaya mencuci ayah punya mobil dua kali setiap minggu
Hari ini udara terasa sangat panasIni hari yang udaranya panas sekali
Kakak mengantar adik ayah ke rumah sakitKakak mengantar adik, ayah pergi ke rumah sakit
Ibu menyuruh adik menyapu halaman belakang rumahIbu menyuruh adik sapu halaman rumah belakang

Syarat suatu komunikasi yang efektif adalah penggunaan kalimat yang komunikatif. Kalimat yang komunikatif adalah kalimat yang dapat membuat pesan tersampaikan dengan tepat. Beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu kalimat menjadi komunikatif antaralain harus sesuai dengan kaidah bahasa, sesuai dengan nalar, dan pesan yang tersampaikan harus sesuai dengan maksud pembicara.

#1 Sesuai dengan kaidah bahasa
Kaidah bahasa adalah aturan atau pedoman yang harus dipatuhi dalam menyampaikan ide atau gagasan. Dalam berkomunikasi, pembicara harus memperhatikan kaidah bahasa yang benar saat menyampaikan informasi kepada pendengar agar pesan yang ingin disampaikan dapat dipahami.

Ketika berbicara, kita tak hanya memperhatikan kaidah bahasa secara tertulis berupa ejaan, tetapi juga harus memperhatikan kaidah bahasa secara lisan. Secara lisan, kaidah bahasa yang harus diperhatikan oleh pembicara antaralain tekanan, jeda, intonasi, dan lafal. Keempat unsur tersebut disebut unsur suprasegmental.

Baca juga : Perbedaan Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda.

Pembahasan lebih jelas mengenai penggunaan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda, dapat kamu lihat melalui link di atas. Pada halaman tersebut dibahas pengertian lafal, tekanan, intonasi, dan jeda dilengkapi dengan contoh sehingga lebih jelas perbedaannya.

Tekanan, intonasi, lafal, dan jeda merupakan unsur yang sangat penting dalam ragam lisan karena perbedaan tekanan, intonasi, lafal, atau jeda dalam penyampaian kalimat sangat mempengaruhi makna dari kalimat tersebut. Kalimat yang sama jika diucapkan dengan intonasi dan jeda yang berbeda, maka akan menghasilkan makna yang berbeda pula. Jika makna yang dihasilkan berbeda, tentu akan menimbulkan kesalahpahaman.

#2 Sesuai dengan nalar
Syarat berikutnya yang harus diperhatikan oleh pembicara adalah penalaran kalimat. Agar komunikasi berlangsung efektif, maka pembicara harus menggunakan kalimat yang sesuai dengan nalar. Artinya, kalimat yang digunakan pembicara harus dapat diterima oleh akal atau logika sehingga pendengar dapat menalarnya dan meyimpulkan pesan yang dimaksud.

Penalaran kalimat adalah proses berpikir untuk menghubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Melalui proses menalar itulah pembicara mencoba untuk merumuskan kesimpulan dan memahami pesan atau maksud dari pembicara.

Penalaran yang benar akan menghasilkan kesimpulan yang benar. Sebaliknya penalaran yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah. Karena pendengar akan mencoba menalar kalimat yang diberikan oleh pembicara dan proses itu bergantung pada kalimat yang diberikan pembicara, maka pembicara harus menggunakan penalaran kalimat yang tepat.

Secara umum dikenal dua jenis penalaran kalimat, yaitu:
1. Penalaran Deduksi
2. Penalaran Induksi

Penalaran deduksi adalah penalaran yang dilakukan terhadap data atau pernyataan umum ke dalam simpulan yang khusus. Penalaran deduksi biasanya dikembangkan dengan pola umum-khusus. Penalaran deduksi dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Penalaran deduksi secara langsung disebut entimen sedangkan penalaran deduksi secara tidak langsung disebut silogisme.

Penalaran induksi adalah penalaran yang dilakukan terhadap data atau peristiwa khusus, kemudian dirumuskan sebuah kesimpulan berupa fakta umum yang mencakup semua peristiwa khusu tersebut. Penalaran induksi biasanya dikembangkan dengan pola khusus-umum. Penalaran induksi dapat dilakukan dengan generalisasi, analogi, dan hubungan kausalitas.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai penalaran deduksi dan penalaran induksi, kamu bisa membuka link di bawah ini. Pada halaman tersebut dibahasa jenis-jenis penalaran deduksi, penalaran induksi meliputi silogisme, entimen, analogi, generalisasi, hubungan kausal, dan contoh paragrafnya.

Baca juga : Jenis-jenis Penalaran Deduksi dan Penalaran Induksi.

#3 Ketersampaian Pesan Sesuai Maksud Pembicara
Syarat berikutnya yang sangat penting adalah ketersampaian pesan. Suatu komunikasi dapat dikatakan efektif jika pesan yang ingin disampaikan oleh pembicara dapat diterima oleh pendengar dengan tepat. Artinya, pesan yang diterima oleh pendengar harus sama dengan pesan yang dimaksud oleh pembicara.

Ketersampaian pesan sangat dipengaruhi oleh sarana dan situasi. Pesan akan tersampaikan apabila sarana yang digunakan untuk menyampaikannya tepat dan situasinya mendukung. Dalam hal ini, tentu harus ada pemahaman antara pembicara dan pendengar terkait gaya bahasa atau kode-kode yang digunakan dalam komunikasi tersebut

Ketersampaian pesan juga sangat dipengaruhi oleh kaidah bahasa yang digunakan oleh pembicara. Jika kalimat yang disampaikan tidak sesuai dengan kaidah bahasa, tentu ketersampaian pesan akan terganggu. Kadangkala, pengaruh bahasa daerah juga dapat menyebabkan kesalahpahaman sehingga komunikasi menjadi tidak efektif.


Edutafsi.com adalah blog bahan belajar sekolah yang ditujukan untuk membantu murid belajar. Dukung edutafsi untuk terus berkembang dengan like laman facebook edutafsi dan follow IG Tafsi Junior. Terimakasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga bermanfaat.

Advertisements

0 comments :

Post a Comment