Jenis-jenis Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif

Posted by on 24 July 2016 - 8:01 PM

Penalaran adalah suatu proses berpikir untuk menghubungkan fakta atau gagasan-gagasan yang ada sehingga diperoleh suatu kesimpulan. Penalaran merupakan proses yang penting dalam kegiatan menulis, membaca, dan menyimak. Penalaran sangat dibutuhkan untuk menarik suatu kesimpulan. Penalaran yang benar akan menghasilkan kesimpulan yang benar. Sebaliknya, penalaran yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah. Proses ini akan sangat mempengaruhi ketersampaian pesan atau gagasan yang ada di dalam wacana. Kemampuan seseorang dalam menyerap informasi atau pesan yang ada dalam wacana sangat bergantung pada penalarannya. Jika ia memiliki kemampuan menalar yang baik, maka akan sangat mudah baginya untuk merumuskan kesimpulan. Pada pembahasan sebelumnya telah dipelajari dua teknik merumuskan kesimpulan yaitu teknik deduksi dan teknik induksi. Pada kesempatan ini, kita akan membahas lebih lanjut kedua teknik tersebut sebagai jenis penalaran dan beberapa alternatif dari masing-masing penalaran tersebut.

Jenis-jenis Penalaran

Agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pembaca atau pendengar, maka seorang penulis atau pembicara harus menggunakan kalimat yang komunikatif. Salah satu syarat agar kalimat disebut komunikatif adalah kalimat itu harus sesuai dengan nalar.

Agar kalimat yang disampaikan sesuai dengan nalar, tentu penulis atau pembicara harus memiliki penalaran yang baik dalam mengembangkan kalimat di setiap paragraf atau pembicaraannya. Terdapat dua jenis penalaran yang umum digunakan, yaitu:
1. Penalaran deduksi
2. Penalaran induksi

Penalaran Deduksi

Penalaran deduksi adalah penalaran yang dilakukan terhadap gagasan, data, atau fakta umum ke dalam simpulan yang khusus. Berdasarkan caranya, penalaran deduksi dibagi menjadi dua yaitu silogisme dan entimen.

#1 Silogisme
Silogisme adalah penalaran deduksi yang dilakukan secara tidak langsung. Pada penalaran silogisme dibutuhkan dua premis yaitu premis umum dan premis khusus. Premis adalah gagasan atau hal yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan. Berdasarkan kedua premis itulah dirumuskan kesimpulan.

Contoh Silogisme
Premis umum : Hewan yang hanya memakan tumbuh-tumbuhan disebut herbivora
Premis khusus : Kambing hanya memakan tumbuh-tumbuhan
Kesimpulan :Kambing disebut herbivora

Premis umum : Semua murid sekolah menengah atas wajib memakai seragam putih abu-abu
Premis khusus : Rani adalah murid sekolah menengah atas
Kesimpulan : Rani wajib memakai seragam putih abu-abu

Baca juga : Merumuskan Kesimpulan dengan Teknik Deduksi dan Induksi.

#2 Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi yang dilakukan secara langsung. Pada penalaran entimen, kesimpulan dirumuskan hanya berdasarkan satu premis. Karena itu, entimen merupakan penalaran silogisme yang diperpendek.

Contoh Entimen
1. Kambing disebut herbivora karena hanya memakan tumbuh-tumbuhan.
2. Rani wajib memakai seragam putih abu-abu karena ia murid SMA

Penalaran Induksi

Penalaran induksi adalah penalaran yang dilakukan terhadap gagasan-gagasan atau peristiwa khusus yang kemudian dihubungkan melalui ciri umum untuk merumuskan sebuah simpulan yang mencakup semua gagasan tersebut. Penalaran induksi dapat dilakukan dengan generalisasi, analogi, dan hubungan kausalitas.

#1 Generalisasi
Generalisasi adalah penalaran induksi yang dilakukan dengan cara menggunakan beberapa pernyataan yang mempunyai ciri tertentu untuk memperoleh kesimpulan yang bersifat umum. Penalaran ini umum digunakan dalam mengembangkan paragraf induksi.

Contoh Generalisasi
Pernyataan 1 : Jika dipanaskan, besi akan memuai
Pernyataan 2 : Jika dipanaskan, emas akan memuai
Pernyataan 3 : Jika dipanaskan, tembaga akan memuai
Kesimpulan : Jika dipanaskan, semua logam akan memuai

Pernyataan 1 : Jika dibakar, botol plastik akan meleleh
Pernyataan 2 : Jika dibakar, tas plastik akan meleleh
Pernyataan 3 : Jika dibakar, cangkir plastik akan meleleh
Kesimpulan : Jika dibakar, benda yang terbuat dari palstik akan meleleh

#2 Analogi
Analogi adalah penalaran induksi dengan cara membandingkan dua hal atau lebih yang memiliki kesamaan. Selanjutnya dirumuskan kesimpulan berdasarkan kesamaan tersebut.

Contoh Analogi
Pernyataan 1 : Rani rajin pergi ke perpustakaan untuk membaca buku.
Pernyataan 2 : Dian senang mengunjungi toko buku untuk membeli buku bacaan.
Kesimpulan : Sama seperti Rani, Dian juga rajin membaca buku.

Baca juga : Langkah-langkah Menyusun Karangan yang Baik.

#3 Hubungan Kausal
Hubungan kausalitas adalah penalaran yang diperoleh dari peristiwa yang memiliki hubungan sebab akibat. Penalaran kausal dapat dilakukan dengan pola pengembangan paragraf sebab-akibat atau pola akibat-sebab.

Contoh Sebab-Akibat
Sebab : David malas belajar dan sering bolos sekolah
Akibat : David tidak naik kelas
Kesimpulan : Karena malas belajar dan sering bolos sekolah, David tidak naik kelas.

Contoh Akibat-Sebab
Akibat : Katty Perry membatalkan konsernya
Sebab : Isu teroris dan pencekalan
Kesimpulan : Katty Perry membatalkan konsernya karena isu teroris dan pencekalan.


Edutafsi.com adalah blog bahan belajar sekolah yang ditujukan untuk membantu murid belajar. Dukung edutafsi untuk terus berkembang dengan like laman facebook edutafsi dan follow IG Tafsi Junior. Terimakasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga bermanfaat.

Advertisements

0 comments :

Post a Comment