LARUTAN ELEKTROLIT DAN LARUTAN NONELEKTROLIT BESERTA CONTOHNYA

Posted by on 12 July 2017 - 4:49 PM

Edutafsi.com - Larutan Elektrolit dan Larutan Nonelektrolit. Klasifikasi atau pengelompokan larutan menjadi elektrolit dan nonelektrolit berkaitan dengan adanya kemampuan suatu zat atau bahan untuk menghantarkan arus listrik. Pada umumnya, untuk menghantarkan arus listrik, maka bahan penghantar yang lazim digunakan adalah bahan logam. Bahan-bahan yang dapat menghantarkan arus listrik dengan baik seperti halnya penghantar logam disebut konduktor. Lalu bagaimana dengan cairan? Apakah bahan berupa cairan atau larutan dapat menghantarakan listrik layaknya penghantar logam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut edutafsi coba rangkum pengertian larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit beserta contohnya.

Sama seperti bahan logam, beberapa jenis larutan juga dapat menghantarkan arus listrik. Untuk menguji kemampuan suatu larutan dalam menghantarkan listrik dapat digunakan alat penguji elektrolit. Timbulnya aliran listrik ditunjukkan oleh perubahan pada elektrode yang dicelupkan ke dalam larutan yang diuji.

Dari pengujian elektrolit, ditemukan beberapa larutan yang dapat menghantarakan arus listrik. Secara umum, bahan-bahan penghantar berupa logam dikenal dengan istilah konduktor untuk yang dapat menghantar listrik dan isolator untuk yang tidak bisa menghantarkan listrik.

Pada bahan berupa cairan atau larutan, dikenal pula istilah elektrolit dan nonelektrolit untuk menyatakan kemampuan larutan dalam menghantarkan listrik. Melalui uji standar daya hantar listrik, maka kita dapat menentukan larutan mana yang bersifat elektrolit dan mana yang bersifat nonelektrolit.

A. Larutan Elektrolit

Larutan elektrolit adalah larutan yang memiliki kemampuan untuk menghantarkan listrik. Dengan kata lain, semua larutan yang dapat menghantarkan arus listrik disebut sebagai larutan elektrolit. Larutan elektrolit memberikan gejala berupa nyala lampu pada alat uji atau timbulnya gelembung gas dalam larutan.

Dari gejala yang ditimbulkan pada hasil pengujian daya hantar listrik, maka akan ditemukan dua kondisi yang berbeda. Secara umum, larutan elektrolit akan menghasilkan gelembung gas pada saat pengujian namun sebagian lagi dapat menyebabkan lampu menyala.

Perbedaan gejala tersebut kemudian menjadi acuan untuk pengelompokkan larutan elektrolit berdasarkan gejala yang ditimbulkan. Ditinjau dari ada tidaknya nyala lampu pada pengujian, maka elektrolit dibedakan menjadi elektrolit kuat dan elektrolit lemah.

#1 Larutan Elektrolit Kuat
Larutan elektrolit kuat adalah larutan elektrolit yang pada pengujian daya hantar menghasilkan gelembung gas dalam larutan dan menyebabkan lampu menyala. Larutan elektrolit kuat memiliki daya hantar relatif baik meski konsentrasinya relatif kecil.

Larutan elektrolit kuat terbentuk dari terlarutnya senyawa elektrolit kuat dalam pelarut air yang menghasilkan ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Ion inilah yang menghantarkan elektron. Beberapa larutan elektrolit kuat antaralain larutan HCl, air laut, larutan HBr, NaCl, dan sebagainya.

#2 Larutan Elektrolit Lemah
Larutan yang dalam pengujian daya hantar hanya menunjukkan gejala timbulnya gelembung gas dalam larutan dan tidak memberikan gejala lampu menyala disebut digolongkan ke dalam larutan elektrolit lemah. Larutan seperti ini memiliki daya hantar yang buruk mekipun konstrasinya besar.

Larutan elektrolit lemah terbentuk dari terlarutnya senyawa elektrolit lemah dalam pelarut air yang tidak terurai secara sempurna sehingga hanya dihasilkan sedikit ion untuk menghantar elektron. Beberapa contoh larutan elektrolit lemah antaralain larutan cuka, larutan amonia, larutan H2S, dan sebagainya.

B. Larutan Nonelektrolit

Larutan nonelektrolit adalah larutan yang tidak memiliki kemampuan untuk menghantarkan arus listrik. Dengan kata lain, semua larutan yang tidak dapat menghantarkan listrik digolongkan ke dalam larutan nonelektrolit. Jadi, larutan nonelektrolit termasuk bahan isolator.

Pada pengujian daya hantar listrik, larutan nonelektrolit tidak menunjukkan gejala daya hantar. Pada pengujian, larutan nonelektrolit tidak menunjukkan timbulnya gelembung gas di dalam larutan atau pun menyalanya lampu. Larutan urea dan etanol termasuk contoh nonelektrolit.

Jika zat nonelektrolit dilarutkan dengan air, maka zat tersebut tidak terurai menjadi ion-ion melainkan tetap dalam bentuk molekul. Karena tidak ada ion yang terbentuk, maka larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan listrik sebab tidak ada ion yang bebas bergerak.

Ilustrasi di bawah menunjukkan bagaimana kondisi urea CO(NH2)2 saat dilarutkan dalam air. Urea tidak terurai menjadi ion-ion melainkan tetap sebagai molekul sehingga tidak timbul ion-ion yang bergerak bebas menhantarkan listrik seperti halnya larutan elektrolit.

Contoh larutan nonelektrolit

Akuades atau air murni seringkali digolongkan sebagai bahan nonkonduktor karena daya hantarnya sangat kecil sehingga seringkali ditiadakan. Akan tetapi, sebenarnya akuades dapat menunjukkan gejala konduktivitas jika diberi tegangan yang cukup besar.

Demikianlah pembahasan singkat mengenai larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit beserta beberapa contohnya. Jika artikel yang anda baca bermanfaat, anda dapat membagikannya melalui tombol share di bawah ini.


Edutafsi.com adalah blog bahan belajar sekolah yang ditujukan untuk membantu murid belajar. Dukung edutafsi untuk terus berkembang dengan like laman facebook edutafsi, follow IG Tafsi Junior, dan subscribe youtube Tafsi Video. Terimakasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga bermanfaat.

Advertisements